Tampilkan postingan dengan label Life. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Life. Tampilkan semua postingan

Jumat, Maret 25, 2016

Mengukur kadar Khusyuk dalam sholat ala Einstein

source pic : google.com
Dari dulu saya sudah ingin menuliskannya. Cuma ya itu, bingung mau mulainya dari mana. Kebingungan saya dalam mengurai makna khusuk. Salah satu kewajiban seorang Muslim (orang Islam) ialah menunaikan sholat. Didalam Al-Qur'an banyak sekali ayat yang menjelaskan keutamaan mendirikan Sholat. Silahkan bertanya kepada guru agama, kyai, atau silahkan "gugling". 

Banyak sekali artikel yang menjelaskan makna sholat dan keutamaanya. Tapi saya tidak akan menuliskan tentang itu. Saya sedang tertarik mengenai kekhusuyu'an dalam melaksanakan sholat. Banyak sekali orang yang mendirikan sholat tetapi tidak melaksanakannya secara khusyu'. Saya sendiri suka bertanya tanya, apakah sholat saya sudah khusyu' . Apakah agar khusu' kita membayangkan Allah sang Pencipta seakan akan hadir didalam sholat kita. Sambil memejamkan mata, menggambarkan kehadiran-Nya.  Berapa tingkatan khusu sholat kita ?. 

Banyak juga artikel yang membahas mengenai kekhusuyu'an dalam melakukan sholat. Terkadang saya juga berkhayal, seandainya ada seseorang yang bisa membuat alat mengukur tingkat kekhusyu'an kita menjalankan ibadah sholat, pasti akan laku keras dijual. Sampai akhirnya saya menemukan teory ini. 

Teory relativitas dari Albert Einstein. Tulisannya seperti ini (source www.goodreads.com) : “Put your hand on a hot stove for a minute, and it seems like an hour. Sit with a pretty girl for an hour, and it seems like a minute. That's relativity. Meski kutipan ini masih harus diuji kebenarannya. Apakah benar diucapkan oleh Einstein seperti yang ditulis dibanyak literatur, paling tidak tulisan ini mampu mengispirasi hari hari saya. Ibadah sholat yang khusyu harus dilandasi dengan kedekatan, ketertarikan dan tanpa adanya keterpaksaan. Ketika kita melakukan ibadah atas dasar keterpaksaan, maka yang terjadi "put our hand on a stove for a minute, and it seems like an hour". 

Ibadah yang kita laksanakan meski cuma sebentar akan berasa lama. Loh tahu darimana kalau ibadah kita ada unsur keterpaksaan ?. Kan yang tahu cuma Allah ?.  Ketika kita selalu berharap Imam sholat membaca surat "qulhu" setelah selesai membacakan surat Al fatihah, nah itu keterpaksaan manurut saya. Dan sholatmu atau ibadahmu kemungkinan besar tidak khusyu'. hehehehehe Ibadah yang khusuk it's a simple thing. 

Gak usah mikir macam macam. Khusyuk itu ternyata seperti kita berbicara dengan seseorang yang menarik. Ya kalo pria bujang seperti mengobrol dengan cewek cantik. Kenapa kok pria bujang, ya kalo pria beristri ngobrol dengan cewek cantik ya dia juga kan gak konsentrasi. Takut takut istri melihatnya pula kan (hehehhe). Atau bisa juga seseorang sedang memainkan video game dengan asyik atau contoh contoh lain. 

Ibadah itu harus dilandasi seperti itu. Ya itu.. "Keasyikan".  Dalam sholat, kedekatan kita kepada Sang Pencipta seperti interaksi kita kepada cewek cantik tadi (karena saya pria ya). Saya jamin, mau imamnya baca surat Al baqoroh 10x nonstop, kita cuek aja. Keasyikan berbicara dengan Sang "Pretty Girl", akan membuat kita mengabaikan semuanya. Kecuali pembicaraan kita dengan pretty girl itu sendiri. Menatap "wajahnya", "ranum bibirnya", "indah alisnya" yang memanjang bak semut berbaris. Memperhatikan rona pipinya  yang seperti bakpao china membuat kita lupa hal hal disekeliling kita. Mau ada Bajaj ngebut, mau ada Bom Atom, mau ada tukang es cincau ngasih gratis, semua akan kita lupakan. Demi asyiknya ngobrol dengan Sang "Pretty Girl" ini. Hasrat untuk bertemu selalu menggelora. Sayang, saya membaca teory "einstein" ini berpuluh puluh tahun setelah einstein tiada. Kalau saja dia masih hidup hingga saat ini, saya akan paksa dia untuk membuat rumusan cara mengukur kekhusu-an dalam sholat. Kali kali dia bisa membantu saya membuat rumus se-terkenal E=mc2. Dan itu akan membuat saya (mungkin) akan menerima hadiah Nobel. hahahahahah Tapi bukan berarti kita harus menunggu tidak terpaksa dulu baru beribadah. Bagimana menghilangkan rasa keterpaksaan. 

Keterpaksaan dapat dihilangkan dengan terus bertemu hingga melahirkan cinta. Kalau dalam filosopi "kuno" orang jawa  yang legendaris witing tresno jalaran seko kulino. Pada akhirnya kedekatan dengan sang Pencipta memang dibutuhkan untuk meningkatkan level kekhusyukan kita dalam beribadah. Kedekatan dengan Sang Pencipta atau sang "pretty girl" tidak bisa dibangun dengan ibadah yang sekali kali. Seperti orang jatuh cinta, kedekatan dengan Nya itu dibangun dari pertemuan yang intense. Intense dalam dzikir, sholat, dan ibadah lainnya. Kembali..... sayang Albert Einstein sudah tiada.

(pernah di posting di www.kompasiana.com)

Dicari marbot yang kharismatik

source pic : google.com



"Hayo anak anak, dilarang berisik, sholat sudah mau dimulai. Yang mau berisik silahkan main diluar atau pulang saja". Kata Marbot
Istilah marbot bagi sebagian orang terdengar tak asing. Marbot (atau ada yang menyebut merbot) ialah penjaga mesjid. Mereka (mungkin) bertanggung jawab terhadap operasional mesjid, menjaga kebersihan masjid dan ada di sebagian mesjid, merbot yang bersuara bagus, di tunjuk menjadi imam tetap. Ya, karena lafaznya baik dalam membawakan ayat ayat untuk sholat.
Kata kata diatas yang diucapkan melalui corong TOA, sedikit membuat saya terhenyak. Dalam banyak hal, malah membuat saya tambah gak khusus menjalankan ibadah sholat. Lah, saya aja gak khusuk, gimana bapak/ ibu yang sholat pada waktu itu membawa serta anak anaknya yang masih kecil. Apalagi yang anak kecilnya hobi main kuda kudaan ketika sang ayah/ibu sedang melaksanakan sujud. Akhirnya timbul dilema membawa serta anaknya ke mesjid. Satu sisi ingin mengajarkan budaya memakmurkan mesjid kepada anaknya, satu sisi lagi akhirnya malah membuat khawatir sang ayah/ibu akan mengganggu "tetangga sholatnya" akan kekhusuk-an ibadah sholat. Belum lagi "teror" sang imam yang belum mulai sholat anak anak dilarang membuat kegaduhan.
Ketika sholat, saya tambah tidak khusuk akibat "instruksi" sang imam tersebut. Walhasil, saya malah membayangkan anak anak umur 3-5 tahun lari larian didalam mesjid ketika orang sedang sholat, atau bahkan main kuda kudaan dipunggung orangtuanya. Atau ada anak anak yang justru menambah keberisikan dengan berkata "HUUSSSSHH, Jangan berisik" kepada temannya. Teman yang di "HUSS"-kan itu akhirnya menjawab "SIAPA YANG BERISIK, KAMU KALI...", walhasil temannya yang lain berucap " saya gak berisik loh. Kalian semua yang berisik". Pada akhirnya, ya berisik semualah bocah bocah tersebut . Tetapi tetap, "instruksi" sang "imam" lah yang malah membuat saya tidak khusuk bukan malah keberisikan para bocah bocah itu. Ketidak khusuk-an saya membawa saya mengingat ketika saya kecil.
Saya tinggal memang tidak jauh dari Surau. Jadi surau itu sudah bagian dari tempat bermain saya. Waktu sholat magrib atau isya sudah kemungkinan besar saya 'nongkrong" di surau. Mau gak mau surau pada saat Magrib atau isya menjadi tempat persinggahan suci bocah bocah. Yang herannya, seumur masa kecil saya, saya tidak pernah mendengar instruksi Imam (pemimpin sholat) untuk yang mau berisik harap pulang saja. Imam hanya berujar, " Hayo anak anak, sekarang waktunya sholat. Rapikan shafnya, dan tenang"... itu saja. Tak ada embel embel gak boleh berisik, atau yang berisik main diluar saja. Karena kita juga tahu bahwa kalo lagi sholat ya gak boleh berisik.
Cuma ya itu tadi, teman saya yang berisik, bukan saya. Lha saya cuma mengingatkan teman sebelah saya supaya gak berisik. Tapi pada akhirnya kita memang tidak berisik sama sekali. Paling cuma injak injakan kaki sama teman sebelah waktu sholat. Kenapa ? Ya dibelakang kita (barisan para bocah) ada seseorang yang dengan tegas berdiri, mengawasi pergerakan kita. Dialah Bang Marbot (penjaga masjid).
Bang Marbot dengan penuh kharisma tanpa berkata kata, membantu merapikan shaf yang "khusus" untuk bocah bocah seperti kita. Bang Marbot hafal nama kita satu satu, entah dari mana dia tahu nama kita. Setelah takbir pertama, Bang Marbot masih tampak sibuk merapikan shaf. Memastikan bahwa shaf anak anak benar benar rapi. Pergerakannya sunyi senyap tanpa gaduh. Itu yang membuat kita para bocah sedikit "takut" untuk tidak patuh kepada Bang Marbot. Meski kadang bang Marbot menjadi Imam, begitu selesai sholat, dia tahu siapa saja anak anak yang berisik. Anggapan kita mungkin dia sakti, bisa tahu suara anak anak yang berisik dibelakang. Kemudian tak segan bang Marbot menegur (sehabis sholat) agar tidak berisik.
Kesaktian yang lain, Bang Marbot ini mampu menenangkan bocah bocah yang berusia 3-5 tahun yang notabene umur umur segini menganggap mesjid layaknya Taman kanak Kanak atau PAUD. Meski belakangan saya juga tahu ternyata kesaktiannya itu cuma masalah komunikasi dengan para anak anak. Sering berbaur dengan anak anak sekitar masjid. Ngobrol ngalor ngidul dengan anak anak, membuatnya hapal nama kita satu persatu.
Pulang dari mesjid, setelah menunaikan ibadah "yang tidak khusuk" magrib, saya masih berharap, bahwa mesjid masih menjadi tempat "nongkrong" yang diminati bocah bocah kecil. Ketakutan mereka untuk menjadi "berisik" sehingga mereka enggan masuk mesjid harus dihilangkan. Para Marbot marbot muda, hendaknya belajar dengan "BANG MARBOT" saya waktu kecil. Marbot harus pula dibekali dengan ilmu psikologi anak mungkin ya. Hahahaha. Anak anak ataupun orang tuanya tidak perlu ditakuti akan bahaya berisik didalam mesjid. Temani anak anak itu. Seiring waktu mereka akan menjadi lebih baik. Berlari lari sesama teman akan membuat memori mereka terkenang akan masa kecil mereka di mesjid/surau. Romantisme inilah yang akan membuat "bocah bocah" tersebut terus memakmurkan mesjid. Jadi mesjid tidak didominasi oleh kakek kakek melulu.
Tugas memakmurkan mesjid menjadi tugas kita para jomblo, orang tua, Marbot, imam dan makmum. Kelak mereka dewasa, mereka juga lah yang akan membawa anak anaknya kembali ke masjid. Maka indahnya jika waktu sholat subuh seramai waktu sholat jumat atau paling tidak sholat magrib...
Jadi... sudahkan anak kita dibawa ke mesjid, atau malah kita yang gak pernah ke mesjid (kecuali jumat saja)

dedicated to Bang Marbot : Mas Mul en Mas Syuhada (namanya memang syuhada)


(tulisan ini sebelumnya saya posting di www.kompasiana.com dan facebook pribadi)

Jumat, November 27, 2015

20 Tahun.... Abege.... dan....

Ketemu teman yang sudah gak bersua selama  20 tahun itu rasanya gimana gitu... Agak canggung, tapi ya senang dan gimana gitu. Maklum 20 tahun. Teman seperjuangan waktu masih bocah yang terlempar ke daerah untuk me-"nyantri". Bercerita kisah lama yang kadang juga gak nyambung. Maklum, ingatan kita masing masing berbeda. Mungkin saya yang lebih kuat ingatannya atau teman saya yang pelupa. heheheheheh...

Ketika omongan ngalor ngidul sampai pada topik yang akhirnya  benar benar membuat kita terhenyak penuh arti. Kita berdua sama sama memulai kehidupan yang sangat jauh dari hingar bingar kota, dalam usia yang masih sangat muda. Usia 12-13 tahun,  Ya... umur 12-13 tahun. Lulus Sekolah Dasar dan jauh pula. Kota Solo menjadi saksi perjalanan kehidupan sebagai seorang"abege". Kota yang saat itu harus ditempuh selama 12 jam perjalannan dengan menggunakan kereta api dari Jakarta. Dan jangan sekali kali membayangkan kita berada di kota besar-nya. Kita terdampar ditempat yang berada ditengah tengah ladang tebu saat itu.  Jauh dari mana mana.

Omongan ngalor ngidul tak berujung ini pun menggaris bawahi keluguan dan keberanian kita saat itu untuk berpisah dengan keluarga. Mengetawai diri sendiri mana kala kita di bully oleh senior senior, tak ada tivi, sampai harus digundul keliling. Saya yang notabene "anak kota" Jakarta pada akhirnya bisa sangat gampang memanjat pohon kelapa. Pohon kelapa yang biasa saya lihat di ancol,  Pulang - pergi Jakarta - Solo sendirian udah "makanan' saya tiap liburan sekolah. Beli tiket di stasiun solo balapan, bolak balik ke gerbong restorasi kereta senja utama, kenalan sama "pramugari" kereta biar dapet tambahan se-iris kelapa kopyor-nya kereta api. Oh ya....saat itu minum kelapa kopyor warna merah di kereta api merupakan kenikmatan yang tiada tara.

Hampir mati ketika naik gunung pun sudah pernah. Gunung Slamet, menjadi saksi manakala air ludah pun terasa pahit untuk ditelan.  Kelas sejak 2 SMP kita sudah berkelana mengelilingi gunung yang ada di Jawa. Gunung Lawu mungkin bosan ketemu sama kita, Merbabu, Merapi, Sindoro, Sumbing, Slamet kita sikat tak lebih dari 3 tahun masa SMP-SMA. Oh ya satu lagi.... biar gini gini kita sudah pemegang gelar BANTARA di ekskul Pramuka. Sementara yang lain paling seumur hidupnya paling mentok sampe Penggalang Rakit. :) . ( padahal bantara yo uooopoooo....)

Obrolan ngalor ngidul antara teman yang telah 20 tahun tak bersua pun hampir terhenti manakala timbul pertanyaan apakah kita akan melakukan hal yang sama dengan orang tua kita dahulu untuk memasukkan putra/putri kita untuk menyantri seumur kita dulu. Ketika kita melihat anak anak sekarang yang tidak  bisa lepas dari gadget-nya, bahkan untuk pergi membeli ayam goreng Fastfood sendiri pun tidak bisa. Harus orangtuanya yang mengantri-kan. 

Harus kah ?


Rabu 19.30wib

Kamis, November 26, 2015

Memaknai level (cinta) ma'rifat dalam kentut

Source pic : google.com
Mencermati proses terjadinya per-kentut pada pasangan muda mudi semakin meyakinkan saya bahwa kentut bisa mencerminkan tingkatan cinta seseorang. Didalam islam dikenal tangga level : syariat - tarekat - hakekat dan ma'rifat. Dimana makrifat merupakan level tertinggi kecintaan seorang salik ( pengikut sufi) terhadap penciptanya. Mengesampingkan cinta utama kita kepada Allah dan rasul, dalam hal ini wujud kecintaan antara laki dan perempuan mencapai titik tertinggi. Dalam beberapa literatur ya mirip mirip seperti "Manunggaling Kawul Gusti" -nya syeikh Siti jenar, atau Maulana Rumi dengan Dervice Dance-nya. Hehehehe

Suatu hubungan bisa dikatakan "manunggaling", melebur, menyatu bila sudah berhasil mengeluarkan perkentutan antar pasangannya. Apalagi ketika akan terjadi proses perkentutan itu diawali dengan ritual khusus, saling tatap, mendengar, berbicaradari hati kehati, untuk kemudian Brooooottt..... brooottt.... menembus awan itu rasa dan aroma kentut.

Pada level cinta alay, makna kentut itu masih dipahami sebagai bentuk cinta level pelaku syariat. Pelaku level syariat ini masih berkutat ditekhnis kentut. Metoda kentut yang baik, bacaan doa kentut. Kentut itu tidak boleh kedengeran, tidak boleh berbau, atau tidak boleh dikeluarkan sehingga perut pun mulas. Boro boro naik level ke makrifat, doa bangun tidur aja masih planga plongo.
Pelaku cinta kuliahan hingga orang kantoran lebih sama aja. Meski tampak lebih "mature", tak beda jauh dengan alay. Masih berkutat di level tarekat. Bila kentut keluar, maka pasangan ini akan saling menyalahkan dan menuding. Mending yang dituding pasangannya, bisa bisa tukang nasi goreng keliling menjadi sasaran amuk pasangan ini atau salah satunya.

Begitulah dunia perkentut-an. Lain halnya bila pasangan yang sudah mengarungi bahtera hidup dan sudah sangat menyatu. Tidak perlu lama usia "kesatuan mereka". Level kentut melambangkan cinta makrifat ditandai dengan pernikahan antara keduanya. Ketika kentut itu ber brooot....brooot, tidak akan ada yang disalahkan. Sisi romantisme akan semakin dalam. Kentut itu akan menimbulkan aksi aksi yang romantis. Oh sayang.... kamu kentut ya.... sambil mencubit sang pasangan. Dan sang pasangan ,sambil mencium kening bilang "iya sayang, aku kentut". Luar biasa.
Sensani pergerakan bokong dalam meletupkan kentut itu menjadi dinamis, tidak menggebu gebu, tidak grusa grusu. Halus, meski aroma khas cinta menyebar ke seantero jagat raya. Tidak harus lari kebelakang atau kabur ke rumah tetangga untuk mengeluarkan kentut itu.
Sebagai pasangan level makrifat dalam kentut, sangat menikmati hubungannya. Tidak ada yang sesuatu hal yang ditutupi. Semuanya hanya untuk kebahagian pasangannya, bahkan kelalaian pasangannya aka selalu dimaknai untuk perbaikan. Meskipun hal itu berupa sehembusan kentut.
Jadi, kapan terakhir kentutmu menjadi senyumku.... ?

Terinspirasi dari sesuatu