Tampilkan postingan dengan label Politic. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Politic. Tampilkan semua postingan

Kamis, Maret 03, 2016

Mengapa Ahok...

Sebenernya sih saya berharap Ridwan Kamil maju ke DKI Jakarta 1 buat jadi penantang Ahok, dan selanjutnya 2019 jadi calon presiden buat nandingin Pak Jokowi. Bakalan rame nih dunia Social Media antara pendukung yang saling ngeles, berbagai macam alesan kenapa Ridwan kamil boleh, Jokowi enggak, dan berbagai macam.
Inget jaman dulu, waktu Gusdur jadi presiden. Taat beragama, Cucu pendiri NU, ilmu-nya luar biasa, tulisannya ribuan, eh malah dibilang Presiden antek Yahudi, dibilang presiden (mohon maaf) kyai buta, akhirnya terlengserkan dan disia siakan begitu saja
Dulu sekali, kita mendambakan Partai diluar Orde Baru atau diluar PPP, yang bisa menyalurkan aspirasi Islam, eh Partai itu malah sama aja. Kadernya terlibat korupsi juga
Dulu sekali, kita mendambakan Gubernur yang tegas tak pilih pilih brantas korupsi, gubernur yang bisa meng-gratiskan biaya administrasi kelurahan, membongkar tempat prostitusi, merapikan tanah abang, membongkar birokrasi perijinan, dikirimlah oleh Tuhan Jokowi sebagai gubernur. eh malah kau sia siakan pula
Marahlah ALLAH.... Marahlah Tuhanmu.
Dan (ingatlah), tatkala Tuhanmu mema`lumkan: "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni`mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni`mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".
Dinaikkan lah Mr. Jokowi jadi RI 1, tinggallah Ahok, si Cina yang kristen ini menetap di Jakarta. Itulah azab yang diberikan oleh Allah kepada orang yang yang tak bersyukur.
Kau tulis di wall facebook 1 untain kalimat kebencian per hari, iya kalo terbukti.. Kalau tak terbukti 1 dosa mu telah dicatat oleh malaikat Rakib dan atid yang senantiasa bersamamu sepanjang hari. Semakin lama AHOK berkuasa, semakin banyak cuitan/postingan tentang dia yang tak terbukti, semakin banyak pula catatan dosamu dicatat oleh Malaikat. Dan ingat, cuitanmu yang salah itu merupakan hubunganmu dengan sesama. Jadi ALLAH akan mengampuni dosamu manakala kau telah meminta maaf kepada orang yang dzolimi dan orang itu memaafkanmu. Seperti halnya jika orang itu mencuri, kau harus kembalikan dulu barangnya, meminta maaf, jika orang itu memaafkanmu, maka selesailah (CMIIW)
Itulah azab buatmu, menumpuk dosa.
Tapi ya gak yakin juga sih bakalan sepi postinganya. Meskipun Si koh Ahok ini malah ujug ujug masuk Islam. Saya yakin dia akan dikejar terus mengenai ke Cina-annya.
Okelah taruh katanya, Ahok bisa menghilangkan ke-cina-annya dan akhirnya matanya bisa jadi gede, dan tidak sipit, pun dia akan "dikejar" dengan kebetawiannya. Bukan orang betawi, Gak boleh jadi gubernur.
Akhirnya Tuhan pun kesal, dirubahlah AHok menjadi orang Betawi Toh kita akan kejar dia dengan bahasa nya yang ceplas ceplos. Jadi Gubernur harus santun, gak cocok AHOK jadi gubernur. Ceplas ceplos.
Lhaaa mau mu itu seperti apa ? kata Tuhan. Jadi mirip cerita Rasulullah yang bernegosiasi dengan nabi musa mengenai masalah Sholat. Perintah pertama itu sholat ada 50 waktu. Akhirnya ditawar jadi cuma 5 waktu (subuh, dhuhur,asyar,magrib,isya). Giliran udah dikasih 5 waktu, yang dikerjain paling cuma magrib. Percaya deh nanti cerita ini juga ada yang bantah mengenai ke shahihan hadistnya. Intinya itu manusia itu memang tak pandai bersyukur.
Menarik memang membahas Ahok ini. Membuka mata kita akan berbagai hal.
(blm selesai... asyar dulu)

Minggu, November 29, 2015

Saya (sudah) tidak memilih PKS lagi

Tentu kita sangat mengenal istilah "Gentlemen Agreement". Istilah ini sangat familiar di lingkungan bisnis, meski tak tetutup kemungkinan bahwa istilah ini juga familiar dalam lingkup pertemanan. Secara umum, istilah ini dapat diartikan suatu perjanjian tanpa ada bukti secara formal. Terkadang gentlemen agreement ini hanya berupa ucapan, atau bukti berupa secarik kertas penuh corat coretan sebagai penanda bahwa perjanjian itu telah terjadi. Sikap, perillaku, perkataan, ketepatan, dan kesungguhan sangat dijaga didalam istilah ini. Jangan sekali kali berjanji, jika memang tidak dapat ditepati. Bagi sebagian pebisnis tionghoa, istilah "gentlemen agreement" sangat sering mereka terapkan. Hanya bermodal perkataan, suatu perjanjian dapat terjadi. Jangan coba coba untuk mengelak ataupun mengingkari perkataan yang pernah diucapkan jika tidak ingin seantero rimba perbisnisan mereka tahu reputasi kita. Jadi janji, perkataan, apapun istilah yang mirip mirip dengan gentlemen agreement ini, sangat dipegang teguh, karena bisa sangat menjadi reputasi kita kelak. Pada waktu pak Harto jatuh dan muncul era multipartai, terus terang saya cukup kagum dengan partai yang menamakan dirinya Partai Keadilan (cikal bakal partai PKS sekarang). Bahkan pada masa sebelum partai keadilan ini berdiri, saya bahkan memiliki teman yang cukup banyak yang notabene merupakan kader Partai Keadilan. Cara berfikir mereka cukup baik, karena mereka rata rata merupakan mahasiswa. Otomatis cara berfikirnya pun relatif lebih baik. Pengajian pengajian mereka cukup aktif. Dalam beberapa pertemuan, saya bahkan pernah satu mobil dengan KETUM PKS sekarang Anis Matta. Meski saya tidak melakukan pembicaraan intens dengan pak Anis, tapi saya cukup mengerti percakapan dalam bahasa arab yang dilakukan Pak Anis dengan asistennya ( ya gak percuma dulu nyantri di ponpes di jateng). Tetapi semakin hari saya melihat partai ini jauh dari harapan saya mengenai "gentlemen agreement" itu tadi. Kekecewaan saya dimulai dari lengsernya GusDur. Ribuan bahkan ratusan ribu kader partai ini paling getol meminta Gusdur untuk mundur. Lhaa... Padahal kan yang milih mereka mereka juga. Tapi okelah, pada saat itu (mungkin) keputusan keputusan dan perilaku GusDur dirasa oleh sebagian kalangan dianggap tidak sesuai dengan kaidah kaidah yang berlaku umum. Hal itu sedikit masih saya maklumi Yang lebih mengganjal di hati saya, ketika seorang kader partai ini (PK atau PKS) berjabat tangan dengan seorang perempuan (michelle obama). Saya lebih terkejut lagi. 

Sebenarnya saya tidak pernah mempermasalahkan jabat tangan dengan siapapun. Mau laki laki, perempuan, waria, homo, ataupun lainnya. Yang jadi masalah buat saya ketika sesorang telah memproklamirkan dirinya tidak berjabat tangan dengan wanita, bahkan didalam perkataannya selalu mengatakan bahwa tidak berjabat tangan dengan perempuan itu menjadi masalah buat saya. Ketika kasus korupsi merajalela, eh seorang kadernya malah beropini dengan berapi api, ingin membubarkan KPK. Dan yang lebih tragisnya seorang kader yang juga merupakan President Partai malah terindikasi melakukan praktek korupsi dengan tema Pengadaan Sapi. Jika indikasi korupsi ini dilakukan oleh partai partai lain yang memang berjiwa maling, saya masih sedikit emosinya. Lhaa, ini indikasi korupsi ini dilakukan oleh kader partai yang menganut azas Islam, yang saya yakin didalam ceramah ceramahnya, dijelaskan bahwa korupsi itu haram, suap dan yang menyuap sama sama masuk neraka, bagi yang ketahuan akan dipotong tangannya, malah dia yang terindikasi melakukan korupsi. Malah pake acara ada konspirasi yahudi segale. Apa gak ada alesan yang lebih baik lagi Jadi simoe eh emosi lagi nih sekarang. Yang lebih gak masuk dinalar saya lagi ( mungkin kepintaran saya gak sepandai mereka mereka ini), ketika PEMILUKADA provinsi DKI jakarta. Pada putaran I kandidat partai ini HNW dan tim suksesnya, terang terangan berseberangan dengan calon Incumbent FOKE. Bahkan terang terangan mengkritik program Gubernut Incumbent. Lhaaa begitu masuk putaran 2 malah mengambil sikap mendukung calon Incumbent tersebut. Nalar saya gak sampe... Mungkin kepintaran mereka menembus batas bumi dan langit kali ya. Malah menggelar konferensi pers untuk mendukung calon incumbent. Tapi untuk kali ini saya memilih untuk tidak memilih pilihan Partai ini. Saya memilih calon yang lain. Dan terbukti calon yang saya pilih dalam pemilukada jakarta hingga saat ini memiliki bukti nyata. Dan banyak kejadian lain yang memutuskan saya menarik suara saya dari partai ini. Perkataan, perbuatan, attitude memang menjadi hal yang krusial. Ketika seseorang tidak dapat menepati janjinya, lebih baik tidak usah berjanji. Karena itu akan membawa reputasi baik atau buruk dirinya, keluarga, ataupun partai yang dia usung. Bila dalam dunia bisnis, sekali anda tidak menepati janji atau mencla mencle dalam suatu hal, siap siap menerima konsekuensi terhadap reputasi anda. Saya pernah mendengar diberikan nasihat secara langsung oleh Salah satu Direktur Utama ditempat saya bekerja dulu ? " KETIKA DIHADAPKAN PADA PERTANYAAN SULIT, BERFIKIRLAH 5 detik. TIDAK USAH TERLALU LAMA. KARENA JAWABAN YANG KELUAR DARI MULUT ORANG YANG BERFIKIR HANYA 5 DETIK DENGAN YANG TIDAK AKAN JAUH BERBEDA HASILNYA". Intinya tetap istiqomah didalam menjaga perkataan. Istiqomah terhadap tauhid, dakwah, akhlaquh karimah (perkataan-perbuatan). 

So... Kamu telah kehilangan hak suara saya pada Pemilu nanti. Salaam